inggit di mata bung karno

BRINFONA.COM Inggit dan aku kawin di tahun1923. Keluargaku tidak pernah menyuarakan satu perkataan mencela ketika aku pindah dari istriku yang masih gadis kepada istri lain yang selusin lebih tua daripadaku.

Inggit yang bermata besar dan memakai gelang di tangan itu tidak mempunyai masa lampau yang gemilang. Dia sama sekali tidak terpelajar, akan tetapi intelektualisme bagiku tidaklah penting dalam diri seorang perempuan. Yang kuhargai adalah kemanusiaannya. Perempuan ini sangat mencintaiku. Dia tidak memberikan pendapat-pendapat. Dia hanya memandang dan menungguku, dia mendorong dan memuja. Dia memberikan kepadaku segala sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh ibuku. Dia memberiku kecintaan, kehangatan, tidak mementingkan diri sendiri. Ia memberikan segala apa yang kuperlukan yang tidak dapat kuperoleh semenjak aku meninggalkan rumah ibu.

Psikiater akan mengatakan bahwa ini adalah pencarian kembali kasih sayang ibu. Mungkin juga, siapa tahu. Jika aku mengawininya karena alasan ini, maka ia terjadi secara tidak sadar. Dia waktu itu dan sekarang pun masih seorang perempuan yang budiman. Pendeknya, kalau dipikirkan secara sadar, maka perasaan-perasaan yang dibangkitkannya padaku tidak lain seperti pada seorang kanak-kanak.

Inggit dalam masa selanjutnya dari hidupku ini sangat baik padaku. Dia adalah ilhamku. Dialah pendorongku. Dan aku segera memerlukan semua ini.

Aku sekarang sudah menjadi mahasiswa di tingkat kedua. Aku sudah kawin dengan seorang perempuan yang sangat kuharapkan dengan perasaan berahi. Aku sekarang sudah melalui umur 21 tahun. Masa jejakaku sudah berada di belakangku. Tugas hidupku merentang di depanku. Pikiran embrio yang dipupuk oleh Pak Cokro (Cokroaminoto), dan mulai menemukan bentuk di Surabaya tiba-tiba pecah menjadi kepompong di Bandung dan dari keadaan chrysalis berkembanglah seorang pejuang politik yang sudah matang. Dengan Inggit berada di sampingku aku melangkah maju memenuhi amanat menuju cita-cita.

Sumber: Bung Karno
Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Cindy Adams.
Foto: Inggit Garnarsih di masa tuanya.